JAKARTA | Portalinformasinusantara.com — Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa jenderal-jenderal terbaik dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak pernah melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) sebagaimana yang kerap dituduhkan oleh pihak Barat. Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri peresmian 1.072 SPPG dan 18 Gudang Ketahanan Pangan serta peletakan batu pertama 107 SPPG Polri di Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (13/2/2026).
Prabowo menyebut, selama ini sejumlah jenderal TNI yang dinilai berprestasi justru mendapat tudingan sebagai pelanggar HAM hingga disebut penjahat perang oleh pihak luar negeri.
“Jenderal-jenderal kita yang paling hebat, paling jago, dimaki-maki, dituduh penjahat perang, dituduh melanggar HAM,” tegas Prabowo dalam sambutannya.
Baca Juga: Prabowo Ungkap Minat Swasta Kelola Lumpur Banjir Aceh, Pemerintah Dorong Percepatan Normalisasi Sungai
TNI Tidak Pernah Menyerang Fasilitas Sipil
Dalam pidatonya, Prabowo membandingkan tuduhan tersebut dengan fakta sejarah TNI. Ia menegaskan bahwa sepanjang sejarah, TNI tidak pernah mengebom fasilitas sipil seperti rumah sakit, panti asuhan, sekolah, rumah ibadah, maupun tempat umum lainnya.
“Rasanya TNI tidak pernah mengebom rumah sakit selama sejarah TNI. Tidak pernah bom panti asuhan, tidak pernah bom sekolah, tidak pernah bom gereja atau masjid,” ujarnya.
Menurut Prabowo, tudingan terhadap TNI tersebut perlu dilihat secara objektif dan proporsional.
Baca Juga: Menkeu Purbaya: Jangan Berlebihan Protes MBG, Ini Pilar Strategis Ekonomi Presiden Prabowo
Kritik terhadap Standar Ganda Negara Barat
Presiden juga mengkritik sikap sejumlah negara Barat yang selama ini gencar mengajarkan nilai-nilai HAM, namun dalam praktiknya justru terlibat dalam berbagai konflik yang menimbulkan korban sipil.
Meski demikian, Prabowo memilih untuk tidak memperpanjang polemik tersebut.
“Saya tidak mau banyak komentar lagi. Anda tahu maksud saya,” katanya, yang disambut tawa hadirin, termasuk para pejabat negara yang hadir.
Baca Juga: Prabowo Dorong Perguruan Tinggi Maju dan Berkualitas Tanpa Membebani Mahasiswa
Prabowo menilai, sorotan tajam terhadap institusi keamanan seperti Polri dan TNI merupakan risiko jabatan yang harus dihadapi dengan ketabahan. Ia menyatakan, polisi saat ini kerap menjadi sasaran kritik publik, sebagaimana TNI pada masa lalu.
“Saya tahu saudara-saudara, polisi banyak jadi sasaran. Itu risiko. TNI juga dulu jadi sasaran,” ujar Prabowo.
Ia mengingatkan bahwa kritik tidak boleh melemahkan semangat pengabdian aparat kepada bangsa dan negara.
“Polisi ya tabahlah, kau juga jadi sasaran bulan-bulanan. Tidak apa-apa. Itu risiko, yang penting niat baik dan pengorbanan untuk bangsa dan negara,” tegasnya.
Baca Juga: Presiden Prabowo Peringatkan Petinggi BUMN: Tidak Mampu Bekerja Jujur, Silakan Mundur
Oknum Harus Ditindak, Institusi Jangan Dikorbankan
Prabowo menegaskan, apabila terdapat oknum aparat yang melakukan pelanggaran, maka yang harus ditindak adalah individu tersebut, bukan institusinya.
Ia mengibaratkan situasi itu seperti seorang murid yang berbuat nakal di sekolah.
“Muridnya yang salah, bukan kepala sekolahnya yang dicopot. Bukan sekolahnya yang ditutup,” kata Prabowo.
Baca Juga: Transparansi Tak Cukup di Layar Sistem: Menguji Integritas Tender APBD Lebak
Pernyataan Presiden ini menegaskan posisi pemerintah dalam membela integritas institusi negara, sekaligus menekankan pentingnya penegakan disiplin internal terhadap oknum yang terbukti melanggar aturan.
Editor | Portalinformasinusantara.com
Tegas • Faktual • Tajam • dan Berpihak pada Kebenaran Publik

















