Jakarta – Korupsi tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh pelan-pelan dari sikap yang salah. Banyak pelaku korupsi terlihat rapi, ramah, dan lantang bicara soal integritas. Tapi di balik semua itu, kejujuran justru ditinggalkan.
Ketua Umum LSM KPKB, Dede Mulyana, menyebut bahwa akar korupsi bukan hanya lemahnya pengawasan, melainkan rusaknya cara pandang terhadap jabatan.
BACA: bareskrimBareskrim Polri Bongkar 21 Situs Judi Online, Sita Uang Tunai dan Aset Rp 96,7 Miliar
“Jabatan seharusnya amanah, bukan alat untuk memperkaya diri,” ujarnya.
Menurut Dede, kekuasaan sering kali disalahgunakan. Anggaran dimanipulasi, program dijadikan ladang keuntungan, sementara rakyat hanya dijadikan objek pencitraan.
Yang lebih ironis, semua itu dibungkus dengan slogan dan baliho besar. Prestasi dipamerkan, tapi di balik layar praktik korupsi tetap berjalan. Citra dipoles, sikap jujur diabaikan.
BACA: Hutan Dijual, Tambang Berjalan: Jejak Alat dan Koordinat di Kawasan Perhutani Bayah
Ia menilai, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan aparat penegak hukum. Hukuman berat penting, tetapi perubahan sikap jauh lebih mendasar.
Rakyat kini semakin kritis. Mereka tidak lagi mudah percaya pada janji dan simbol. Yang diinginkan adalah tindakan nyata: jujur, sederhana, dan berani menolak korupsi.
Selama sikap masih kalah oleh pencitraan, korupsi akan terus ada. Indonesia tidak kekurangan aturan, tapi masih kekurangan teladan. Perubahan nyata selalu dimulai dari sikap, bukan dari penampilan.
editor: Yudistira

















